Lemari Pendingin Butut

Tahun 2010 aku memutuskan pindah dari rumah kontrakan dan meninggalkan beberapa alat elektronik didalamnya. Dengan hati porak poranda aku memutuskan untuk pergi. Perih.

Berkat kebaikan seorang sahabat yang sudah aku anggap seperti kakakku sendiri, aku dan dia berbagi kamar kosan di bilangan Kebon Kacang, Jakarta Pusat. Tidak murah untuk bisa tinggal disitu, syukurlah Mbak Tina mau merelakan beberapa rupiah untuk berbagi bayar. Bukan hanya itu, mau menemaniku disaat sendirian dan jatuh, itulah hal terpenting saat itu.

Seperti yang sudah - sudah, aku selalu berkeinginan membeli ini itu. Perlu dispenser karena kita perlu air panas untuk menyeduh susu atau teh kataku, juga lemari pendingin supaya kita bisa menyimpan sayur dan buah. Hingga berbulan bulan aku belum juga mampu membeli sebuah lemari pendingin. Alasannya? Mahal.

Aku hanya perlu sebuah mini bar (lemari pendingin ukuran 60cm kurang lebih), dan ternyata harganya lebih mahal dari lemari pendinginku sebelumnya yang pernah aku beli dengan menggunakan jasa cicilan koperasi. Berbulan - bulan aku redam keinginan membeli lemari pendingin, dua kali aku ditawari oleh teman kosan untuk membeli lemari pendingin mereka dengan harga 800 ribu. Masih mahal menurutku.

Bukannya tak mampu membeli, kala itu gajiku masih bersisa banyak, tapi aku takut kalau saja nanti ada kebutuhan mendesak.

Tidak lama setelahnya, lagi lagi Mbak Tina menunjukkan kemurahan hatinya. "Ta, dikantor lagi ada lelang kulkas. Kamu mau ga? 90 (atau 125) ribu aja" Begitu katanya di telepon. Mbak Tina bekerja di sebuah hotel bintang 4 di kawasan Thamrin, dan mereka berencana mengganti seluruh lemari pendinginnya dengan yang baru. Seketika aku merasa sangat bahagia, aku mengiyakan tawaran Mbak Tina.

Beberapa bulan kemudian kami berdua harus berpisah karena Mbak Tina harus ke Bali. Karena lemari itu dia yang membeli aku menawarkan untuk dibawanya ke Bali atau dibawa pulang ke Depok, dan dia menjawab "Tuta pake aja" duh, hari itu rasanya mendadak dingin karena bahagia.

Panjang ceritanya hingga akhirnya kami berdua kembali dipersatukan dalam rumah kos khusus putri, rumah kos yang lain sejak Mbak Tina pindah ke Bali. Kali ini aku di lantai dua, Mbak Tina di lantai bawah. Lemari pendingin itu masih bersamaku. Menjelang hari pernikahanku, aku harus pindah untuk kesekian kali, ke kosan kita yang lama yang menerima sepasang suami istri. Lagi, aku menanyakan perihal lemari pendingin kepada Mbak Tina "Mbak, kulkasnya aku tinggal aja ya" dan dia menjawab "Tuta bawa aja, kan mau ada suami, biar bisa masak"

Ya, lemari pendingin yang umurnya sudah melebihi umurku sendiri, karena kabarnya lemari pendingin yang sekarang di kamarku ini dibeli sejak tahun 1976 sedangkan aku lahir sembilan tahun kemudian, adalah bukti bahwa kasih seseorang ada bahkan ketika orang tersebut tidak tahu bahwa dirinya adalah semacam dewa penolong.

Bulan depan, September aku akan pindah ke kota tempat suamiku bekerja. Yogyakarta. Sekali lagi aku akan menanyakan kepada Mbak Tina, apakah dia membutuhkannya? atau aku akan membawanya bersama hatiku, bersama kenangan kenangan bagaimana Mbak Tina ada selama ini untukku, lemari pendingin butut ini akan selalu jadi bukti bahwa Tina dan Tuta pernah bersama dan akan selalu bersama.

I love you Mbak Tin, meski kamu dingin tapi di dalam hatimu adalah tersimpan kebaikan beribu manusia.

Komentar

  1. Balasan
    1. Baru buka blog, makasih sudah berkenan mampir

      Hapus
  2. satu hal yang membuatku turut senang dari cerita ini adalah tentang kepindahan kamu bulan september nanti :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Intan, ehehehe baru buka blog nih.udah 4bulan di jogja ahaha makasiiiih ya

      Hapus

Posting Komentar

Postingan Populer