Surat (masih) untuk diriku

Surat ini masih untuk diriku sendiri, masih untuk hatiku yang terus membeku, masih untuk kepalaku yang sekeras batu.

Aku seringkali merasa dikucilkan, nyatanya aku yang menarik diri dari peradaban. Aku merasa mengerti dan tahu apa yang orang lain bicarakan tentangku, nyatanya itu hanyalah prasangkaku.

Aku seringkali meninggikan diri dengan merendahkan orang lain. Aku ingin orang lain menerima diriku apa adanya, sementara aku dengan congkak menolak dan menghujat sikap orang lain.

Aku mudah marah, menganggap orang lain bodoh karena terlalu lambat mencerna setiap arahan. Sebagian berpendapat seharusnya aku bertahan sebentar untuk mendengar, memberi jeda beberapa detik setiap kali akan meledak. Seringkali aku membenarkan pendapat itu, dengan sesal dibelakang.

Di surat ke 17 ini, aku mau nampar mukaku sendiri melalui prajurit kata dalam batalyon kalimat. Lihat sekeliling, jangan terlalu keras kepala. Biarkan orang lain bergunjing, tetaplah kamu bersahaja. Ha? bersahaja? salah pilih kalimat, berbaurlah penting untuk kesehatan hati dan pikiranmu.

Okay?

Komentar

Postingan Populer